MODUL KESADARAN MENURUN
BLOK EMERGENCY AND TRAUMATOLOGY
Skenario
Kasus
Perempuan
21 tahun dibawa ke puskesmas dalam keadaan tidak sadar. Setelah diletakkan di
tempat tidur dan diperiksa, penderita tidak memberi respon dan tetap mendengkur
dengan irama napas 40 x/ menit. Muka kelihatan pucat, nadi radial tidak teraba.
Ditemukan jejas pada pelipis kanan, bahu kanan dan perut kiri bawah. Dari orang
yang mengantar tidak satupun yang tinggal dan dapat memberi keterangan tentang
keadaan dan apa yang terjadi pada penderita tersebut.
A.
Resume
1. Perempuan
21 tahun dibawa ke puskesmas dalam keadaan tidak sadar.
2. Penderita
tidak memberi respon dan tetap mendengkur dengan irama napas 40 x/ meni
3. Muka kelihatan pucat, nadi radial tidak teraba
4. Ditemukan jejas pada pelipis kanan, bahu kanan dan perut
kiri bawah
5. Tidak
ada informasi apapun yang diterima dari beberapa orang yang mengantar.
B. Pertanyaan
1. Bagaimana
penanganan awal yang diberikan kepada pasien pada scenario?
2. Bagaimana
penanganan lanjut yang diberikan kepada pasien pada skenario?
3. Bagaimana
etiologi penurunan kesadaran?
4. Bagaimana
mekanisme penurunan kesadaran?
5. Apa
differential diagnosis dari scenario tersebut?
PEMBAHASAN
A.
Penanganan
Awal
·
Initial assesement adalah penilaian yang cepat dan
pengelolaan yang tepat guna terhadap keadaan penderita untuk menghindari
kematian. Sebelum memasuki primary survey dilakukan:
Persiapan
penderita berlangsung dalam 2 keadaan berbeda.
a. Fase
Pra-Rumah Sakit
Koordinasi antara dokter di rumah sakit dengan petugas lapangan. Sebaiknya
rumah sakit diberitahukan sebelum penderita mulai diangkut dari tempat kejadian sehingga rumah sakit
dapat menyiapkan tim trauma yang sudah
siap saat penderita sampai di rumah sakit. Fase ini dititikberatkan pada
penjagaan airway, kontrol perdarahan dan syok, imobilisasi penderita dan
pengiriman ke rumah sakit terdekat yang cocok.
b. Fase
Rumah Sakit
Dilakukan perencanaan sebelum penderita tiba. Sebaiknya ada ruangann
resusitasi. Persiapkan perlengkapan airway (laringoskop, ETT) ,cairan
kristaloid sudah dihangatkan dan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau,
perlengkapan monitoring, pemanggilan tenaga medis tambahan, dan proteksi tenaga
medis dari penyakit menular.
·
Triage
Triage adalah upaya yang digunakan
untuk memilah-milah penderita menurut kegawatan dan kedaruratannya untuk
keperluan kecepatan dan efisiensi penanganan, terutama apabila jumlah penderita
lebih banyak dari tenaga dan sarana pelayanan yang tersedia.
a. Penderita
gawat (emergent), yaitu penderita yang memerlukan pertolongan langsung tanpa
menunda suatu apapun.
b. Penderita
cukup gawat (urgent), yaitu menderita yang memerlukan pertolongan segera tetapi
bila masih ada penderita gawat
dan tidak cukup tenaga dan sarana, masih bisa ditunda untuk ditangani tetapi
dalam waktu yang tidak lama.
c. Penderita
kurang gawat, yaitu penderita yang bila situasi dan kondisi memungkinkan, masih
dapat ditunda pertolongannya.
d. Penderita
dalam keadaan darurat, bias gawat maupun cukup gawat atau kurang gawat, dan
bias pula pula penderita yang tidak ada gangguan Kardiovaskuler.
Pada penderita tidak sadar, tindakan
awal yang seharusnya dinilai adalah memastikan tingkat kesadarannya.
Resiko-resiko yang potensial seperti adanya benda berbahaya, kondisi lingkungan
yang tidak stabil seharusnya dipertimbangkan agar tidak memperburuk keadaan
penderita. Penilaian tingkat kesadaran ini harus dilakukan dengan cepat dan tidak perlu mendalam, yaitu dengan
klasifikasi AVPU:
o
A :
Alert yang berarti sadar penuh yang ditunjukkan dengan membuka mata spontan,
menjawab pertanyaan dengan benar dan menggerakkan bagian tubuh sebagaimana
diperintahkan.
o
V :
Voice yang berarti korban berespon setelah diberikan rangsangan suara.
o
P :
Pain yang berarti korban berespon
setelah diberikan rangsangan nyeri.
o
U :
Unresponsive yang berarti korban tidak
berespon sama sekali.
Evaluasi dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS)
memang lebih rinci tetapi memerlukan lebih banyak waktu sehingga bisa ditunda
untuk tahap evaluasi lebih lanjut, yaitu dissability.
Sebelum
melakukan primary survey, yang pertama yang harus dilakukan adalah menilai
derajat trauma berdasarkan pemeriksaan pernapasan, perdarahan, dan kesadaran.
Pernapasan ditentukan berdasarkan frekuensinya, perdarahan dinilai berdasarkan
tekanan darah arterial, dan kesadaran dapat diukur berdasarkan skala koma
Glasgow (Glasgow Coma Scale).
|
REAKSI
|
NILAI
|
|
E : Mata Membuka
spontan
mengikuti perintah
bereaksi terhadap rangsang nyeri
tak ada reaksi terhadap rangsang (nyeri)
|
4
3
2
1
|
|
M : Respon Motorik
mengikuti perintah/bertujuan
menepis rangsangan
gerakan menghindar nyeri
gerakan fleksi (dekortikasi)
gerakan ekstensi (deserebrasi)
tak ada gerakan sama sekali
|
6
5
4
3
2
1
|
|
V : Respon Verbal
berorientasi baik
disorientasi/bingung
tidak sesuai/ satu kata saja
tidak mengerti/suara saja
tidak ada suara sama sekali
|
5
4
3
2
1
|
Glasgow Coma Scale
Nilai
tertinggi : E + M + V = 13-15 (responsiveness)
Nilai
Sedang : E + M + V = 9-12
Nilai
Terendah : E + M + V = 3-8 (coma)
Primary Survey
A. Airway
Hal
yang dinilai pertama adalah kelancaran jalan nafas. Ini meliputi adanya
obstruksi jalan nafas yang disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah,
fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring atau trakea. Usaha untuk membebaskan
airway harus melindungi vertebra servikal.
a.
Pemeriksaan
Pada pemeriksaan yang pertama harus dinilai adalah
kelancaran jalan nafas. Selama memeriksa dan memperbaiki airway harus
diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan ekstensi, fleksi atau rotasi dari
leher. Penilaian jalan nafas dilakukan dengan cara look, listen and feel.
Look (Lihat):
1.
Lihat
adanya retraksi dan pengunaan otot-otot nafas tambahan, pernafasan cuping
hidung, retraksi trakea, retraksi thorax,
2.
Lihat
gerakan dada atau perut, apakah mengembang atau tidak.
3.
Dilihat
apakah penderita mengalami agitasi sehingga lidah jatuh ke belakang atau
penurunan kesadaran.
Listen (Dengar):
1.
Dengarkan
bunyi pernafasan.
2.
Dengarkan
adanya bunyi atau suara tambahan seperti mendengkur (snoring), berkumur (gurgling), dan bersiul (crowing
sound, stridor)
Feel (Rasa):
1.
Rasakan
apakah ada hembusan udara ekspirasi atau tidak, dengan menggunakan pipi.
2.
Ada
tidaknya geteran di leher sewakti bernafas.

Look, listen, feel
b.
Permasalahan
Permasalahan yang dapat menyebabkan
gangguan pada jalan napas yaitu:
1. Sumbatan
total: Sumbatan total dapat terjadi karena makanan atau benda asing yang
mengganjal atau menghalangi jalan nafas. Keadaan ini sering disebut tersedak (chocking), mendengkur (snoring), berkumur (gargling), stidor (crowing),
nafas cuping hidung (flarings of the
nostrils).
2. Sumbatan
parsial: Sumbatan parsial atau sebagian di sebabkan karena lidah jatuh
kebelakang pada korban tidak sadar, pendarahan atau banyaknya sekret, dan edema
laring yang masih proses (belum terjadi edema total). Pada saat korban tidak
sadar dan terbaring telentang, gaya gravitasi akan membuat dagu jatuh ke
belakang. Mulut akan terbuka tetapi jalan nafas cenderung tertutup. Dalam
keadaan tidak sadar otot menjadi rileks dan lidah jatuh ke arah dinding
belakang mulut. Ini akan menutupi jalan nafas sehingga udara tidak dapat masuk
dan keluar dari atau ke paru-paru.
3. Retraksi
trachea
4. Fraktur
servikal
c.
Penanganan
Penanganan
airway dapat dilakukan dengan cara:
a. Melakukan chin
lift, head tilt atau jaw trust
Head tilt
1. Satu tangan diletakkan pada dahi penderita.
2. Tekan ke belakang sehingga kepala menengadah ke
belakang.
Chin lift
1. Jari jemari salah satu tangan diletakkan di bawah
rahang, lalu secara hati-hati diangkat ke atas untuk membawa dagu ke arah
depan.
2. Ibu jari tangan yang sama dengan ringan menekan
bibir bawah untuk membuka mulut.
3. Ibu jari dapat juga diletakkan di belakang gigi seri
bawah dan secara bersamaan dagu dengan hati-hati di angkat.
4. Manuver chin
lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi leher.
5. Manuver ini berguna pada korban trauma karena tidak
membahayakan penderita dengan kemungkinan patah ruas tulang leher atau mengubah
patah tulang tanpa cedera sumsum tulang menjadi cedera sumsum tulang.

Head tilt and chin lift manuver
Jaw trust
1. Berlutut di atas kepala korban.
Letakkan siku pada lantai di kedua sisi kepala korban. Letakkan tangan di kedua
sisi kepala korban.
2. Cengkeram rahang bawah korban pada
kedua sisinya.jika korban anak-anak, gunakan dua atau tiga jari dan letakkan pada sudut rahang.
3. Gunakan gerakan mengangkat untuk
mendorong rahang bawah korban keatas. Hal ini menarik lidah menjauhi
tenggorokan.
4. Tetap pertahankan mulut korban
sedikit terbuka. Jika perlu, tarik bibir bagian bawah dengan kedua ibu jari.

Jaw
thrust
Pembebasan jalan nafas akibat adanya obstruksi antara lain:
Cross finger
Untuk memeriksa jalan nafas terutama
di daerah mulut, dapat dilakukan teknik dengan menggunakan ibu jari dan jari
telunjuk yang disilangkan dan menekan gigi atas dan bawah.

Cross finger
Finger
Sweep
Dilakukan bila jalan nafas tersumbat
karena adanya benda asing pada rongga mulut belakang atau hipofaring seperti
gumpalan darah, muntahan, benda asing lainnya sehingga hembusan nafas hilang.
1.
Miringkan
kepala pasien (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher) kemudian buka mulut
dengan jaw thrust dan tekan dagu ke bawah bila otot rahang lemas (maneuver
emaresi)
2.
Gunakan
2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau dibungkus dengan sarung
tangan/kassa/kain untuk membersihkan rongga mulut dengan gerakan menyapu.
Finger sweep
Back Blow/Back Slaps
1.
Rangkul korban dari belakang
2.
Satu lengan menahan tubuh, lengan yang
lain melakukan back blow/back slaps
3.
Pertahankan korban jangan sampai
tersungkur
4.
Berikan pukulan / hentakan keras lima
kali, dengan kepalan atau genggaman tangan pada titik silang imaginasi
tulang belakang dan garis antar belikat
5.
Usahakan benda asing dapat keluar.
![]() |
Back
Blow/Back Slaps

Back
Blow
pada bayi
Abdominal
Thrust (Manuver Heimlich)
Pada
posisi berdiri atau duduk:
Penolong harus berdiri di belakang
korban, lingkari pinggang korban dengan kedua lengan penolong, kemudian
kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut korban,
sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Pegang erat kepalan
tangan dengan tangan lainnya. Tekan kepalan tangan ke perut dengan hentakan
yang cepat ke atas. Setiap hentakan harus terpisah dan gerakan yang jelas.
Pada
posisi tergeletak / tidak sadar:
Korban harus diletakkan
pada posisi terlentang dengan muka ke atas. Penolong berlutut di sisi paha
korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di
atas pusar dan jauh di bawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan di
atas tangan pertama. Penolong menekan ke arah perut dengan hentakan yang cepat
ke arah atas.

Manuver
Heimlich
B. Breathing
a. Pemeriksaan
Pemeriksaan
yang dapat dilakukan untuk menilai pernapasan atau breathing penderita yaitu kita kembali melakukan look, listen, dan feel.
Pemeriksaan ini tidak boleh lebih dari 10 detik.
Look
(Lihat) :
Adanya
takipnea, terjadi hipoksemia atau penurunan kesadaran, gerakan nafas, simetris
dada, sianosis, distensi vena leher, dan adanya jejas di dada, retraksi dan
penggunaan otot-otot nafas tambahan.
Listen (Dengar) :
Menilai
apakah penderita tersebut sesak atau tidak dan menilai suara napas.
Feel (Rasa) :
Rasakan apakah ada udara ekspirasi atau tidak. Palpasi lokasi trakea dan
cepat tentukan apakah trakea berada di tengah mengalami deviasi
b. Permasalahan
Permasalahan yang dapat mengganggu
ventilasi yaitu:
1. Jalan
nafas. Adanya sumbatan pada jalan napas akan mengganggu ventilasi dan
oksigenasi.
2. Paru.
Kelainan di paru seperti radang aspirasi, atelektasis, oedema contusio dapat
menyebabkan gangguan napas.
3. Rongga
pleura. Normalnya rongga pleura kosong dan bertekanan negative. Adanya udara,
cairan, dan darah akan meningkatkan tekanan rongga pleura sehingga paru dapat
terdesak dan timbul gangguan nafas.
4. Dinding
dada. Patah tulang iga yang multiple maupun segmental akan menyebabkan nyeri
pada saat inspirasi dan terjadinya fail chest sehingga terjadi hipoventilasi
sampai atelektasis.
5. Otot
nafas. Bila terdapat kelumpuhan pada otot-otot pernafasan akan mengganggu
ventilasi dan adanya peningkatan tekanan intra abdominal akan menghambat gerak
diafragma.
6. Syaraf.
7. Jantung.
Kelainan jantung seperti infark miokard, gagal jantung, dan angina pectoris.
c. Penanganan
Untuk penderita yang
diketahui masih dapat bernapas atau pemulihan airway sudah dilakukan tetapi masih belum memberikan respon maka
penderita dibiarkan dalam recovery
position, dengan cara:

Recovery position
1. Penderita
ditempatkan dengan posisi yang hampir mendekati lateral penuh dengan
mempertahankan kepala agar cairan dapat mengalir dengan bebas.
2. Posisi
penderita dalam keadaan stabil.
3. Mencegah
terjadinya penekanan pada dada yang dapat mengganggu pernapasan.
4. Harus
sedapat mungkin mengembalikan posisi penderita dengan mudah dan aman dengan
mempertimbangkan kemungkinan trauma cervical.
5. Observasi
dan penilaian jalan napas harus dapat dilakukan dengan sebaik mungkin.
6. Posisi
tersebut tidak menyebabkan trauma pada penderita.
7. Jika
penderita tetap berada pada recovery
position selama lebih dari
30 menit, penderita di balik ke sisi yang berlawanan.
TERAPI
OKSIGEN
Pemberian
tambahan oksigen pada pasien agar kebutuhan oksigen (untuk kehidupan sel-sel yang
mempertanggungjawabkan sempurnanya fungsi organ) dapat terpenuhi.
Kondisi yang perlu
oksigen :
o
Sumbatan jalan nafas
o
Henti nafas
o
Henti jantung
o
Nyeri dada
o
Shock
o
Stroke
o
Pasien tidak sadar
Peralatan :
o
Nasal kanula
o
Face
mask
o
Partial
rebreather mask
o
Non
reabrether mask
o
Venturi
mask
o
Bag
valve mask
o
Flowmeter, regulator
o
Oksigen
Konsentrasi oksigen
tergntung dari jenis alat dan flowrate (liter permenit) yang diberikan. Kondisi
pasien menentukan keperluan alat dan konsentrasi oksigen yang diperlukan.
|
JENIS ALAT
|
KONSENTRASI OKSIGEN
|
ALIRAN OKSIGEN
|
|
-
Nasal kanula
-
Simple Face Mask
-
Partial rebreather
-
Non Rebreather
-
Venturi
Bag valve mask :
-
Tanpa oksigen
-
Dengan oksigen tanpa reservoir
-
Dengan oksigen dan reservoir
|
-
24% - 32%
-
35% - 60%
-
35% - 80%
-
50% - 95%
-
24% - 50%
(bervariasi
tergantung alat yang digunakan)
-
21% (udara)
-
40%
-
100%
|
-
2-4 LPM
-
6-8 LPM
-
6-10 LPM
-
8-12 LPM
-
4-10 LPM
-
8-10 LPM
-
8-10 LPM
|
Pada
skenario ini didapatkan gangguan ventilasi ditandai dengan frekuensi pernapasan
takipnu. Adapun tindakan yang dapat dilakukan yaitu pemberian kanul dengan
flow oksigen 2 – 4 liter / menit konsentrasi 30% . Jika tidak berhasil
dapat diganti dengan sungkup sederhana
dengan flow oksigen 6-8 liter/menit konsentrasi 60 % atau sungkup
berbalon dengan flow oksigen ≥10
liter/menit konsentrasi 100%.
C. Circulation
Perdarahan
merupakan sebab utama kematian yang
mungkin dapat diatasi dengan terapi yang cepat dan tepat di rumah sakit. Suatu
keadaan hipotensi harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia, sampai terbukti
sebaliknya. Dengan demikian perlu penilaian cepat dari status hemodinamik
penderita.
a.
Pemeriksaan
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk penderita yang
mengalami gangguan sirkulasi, antara lain:
Mengetahui sumber perdarahan
Hal ini dimaksudkan untuk mencegah pasien mengalami
syok hipovelemik akibat banyak kekurangan darah, dengan berusaha menghentikan
perdarahan.
1. Menilai
kesadaran
Bila
volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang yang akan mengakibatkan
penurunan kesadaran.
2. Menilai
nadi carotis
Diperiksa untuk menilai kekuatan, kecepatan, dan
irama nadi. Nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda hipovolemia, walaupun
dapat disebabkan keadaan yang lain. Nadi yang tidak teratur merupakan tanda
gangguan jantung. Tidak ditemukannya pulsasi pada arteri besar merupakan tanda
diperlukannya resusitasi segera.
Nadi carotis dapat diraba dengan menggunakan 2 atau
3 jari yang menempel kira-kira 2 cm garis tengah leher atau jakun pada sisi
yang paling dekat dengan pemeriksa, waktu untuk menilai nadi carotis sekitar
5-10 detik.

Pemeriksaan
Nadi Karotis
3. Menilai
capillary refill time.
Tanda sirkulasi normal capillary refillnya < 2
detik, apabila lebih dari 2 detik maka pasien mengalami gangguan sirkulasi.
4. Menilai
warna kulit.
Warna kulit dapat
membantu diagnosis hipovolemik. Penderita trauma yang kulitnya kemerahan
terutama pada wajah, daerah ekstremitas jarang yang dalam keadaan hipovolemia. Wajah pucat keabu-abuan dan kulit extremitas yang pucat, merupakan tanda hipovolemik
D. DISABILITY (NEUROLOGIK EVALUATION)
Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi
terhadap keadaan neurologis secara tepat. Yang dinilai disini adalah tingkat
kesadaran,ukuran dan reaksi pupil, tanda lateralisasi dan tingkat cedera
spinal.
Tingkat kesadaran dapat diukur dengan GCS (Glasgow coma
scale) atau dengan menggunakan AVPU. Adapun score GCS dapat dilihat dibawah ini:
|
No
|
RESPON
|
NILAI
|
|
1
|
Membuka Mata
:
-Spontan
-Terhadap rangsangan
suara
-Terhadap nyeri
-Tidak ada
|
4
3
2
1
|
|
2
|
Verbal :
-Orientasi baik
-Orientasi terganggu
-Kata-kata tidak jelas
-Suara tidak jelas
-Tidak ada respon
|
5
4
3
2
1
|
|
3
|
Motorik :
- Mampu bergerak
-Melokalisasi nyeri
-Fleksi menarik
-Fleksi abnormal
-Ekstensi
-Tidak ada respon
|
6
5
4
3
2
1
|
|
Total
|
3-15
|
|
Pada skenario dari hasil pemeriksaan didapatkan penderita
tidak memberikan respon. Hal ini menunjukan GCS yang didapat adalah 3
(Motorik=1,Verbal=1,Motorik=1).
E.Exposure/Environment
1. memeriksa dan evaluasi
seluruh tubuh
2. cegah hipotermi dan hangatkan
3. Sebaiknya diberikan Cairan IV yang sudah di
hangatkan
I.
TAMBAHAN PADA PRIMARY SURVEY DAN RESUSITASI
A.
Pasang EKG
1.
Bila ditemukan bradikardi, konduksi aberan atau
ekstrasistole harus dicurigai adanya hipoksia dan hipoperfusi
2.
Hipotermia dapat menampakkan gambaran disritmia
B.
Pasang kateter uretra
1.
Kecurigaan adanya ruptur
uretra merupakan kontra indikasi pemasangan
kateter urine
2.
Bila terdapat kesulitan pemasangan kateter karena striktur uretra atau BPH, jangan dilakukan manipulasi atau instrumentasi, segera
konsultasikan pada bagian bedah
3.
Ambil sampel urine untuk pemeriksaan urine rutine
4.
Produksi urine merupakan indikator yang peka untuk menilai
perfusi ginjal dan hemodinamik penderita
5.
Output urine normal sekitar 0,5 ml/kgBB/jam pada orang
dewasa, 1 ml/kgBB/jam pada anak-anak dan 2 ml/kgBB/jam pada bayi
C.
Pasang kateter lambung
1.
Bila terdapat kecurigaan fraktur basis kranii atau trauma
maksilofacial yang merupakan kontraindikasi
pemasangan nasogastric tube, gunakan orogastric tube.
2.
Selalu tersedia alat suction selama pemasangan kateter
lambung, karena bahaya aspirasi bila pasien muntah.
D.
Monitoring hasil resusitasi dan laboratorium
Monitoring
didasarkan atas penemuan klinis; nadi, laju nafas, tekanan darah, Analisis Gas Darah (BGA), suhu tubuh dan
output urine dan pemeriksaan laboratorium darah.
E.
Pemeriksaan foto rotgen dan atau FAST
1.
Segera lakukan foto thoraks, pelvis dan servikal lateral,
menggunakan mesin x-ray portabel dan atau FAST bila terdapat kecurigaan trauma
abdomen.
2.
Pemeriksaan foto rotgen harus selektif dan jangan sampai
menghambat proses resusitasi. Bila belum memungkinkan, dapat dilakukan pada
saat secondary survey.
3.
Pada wanita hamil, foto rotgen yang mutlak diperlukan,
tetap harus dilakukan.
Secondary survey
Secondary
survey baru dilakukan setelah primary survey selesai,
resusitasi dilakukan dan ABC-nya penderita dipastikan membaik. Dimulai dari
pemeriksaan kepala sampai kaki, re-evaluasi pemeriksaan tanda vital,
pemeriksaan neurologi.
1.
Anamnesis
Setiap pemeriksaan yang lengkap memerlukan anamnesis
mengenai riwayat perlukaan. Riwayat “AMPLE” perlu diingat:
A =
Alergi
M =
Medikasi
P = Past illness (penyakit penyerta) / Pregnancy
L = Last Meal
E = Even / Environment (lingkungan) yang
berhubungan dengan riwayat perlukaan
2.
Pemeriksaan Fisis
Yang dapat dinilai yaitu:
i.
Kepala
ii.
Maksilo-facial
iii. Vertebra
servikalis
iv. Toraks
v.
Abdomen
vi. Perineum
vii. Muskuloskletal
viii. Neurologis
3.
Drugs (obat-obatan)
Epinephrin
- Indikasi : henti jantung (VF, VT tanpa nadi, asistole, PEA) , bradikardi, reaksi atau syok anfilaktik, hipotensi.
- Dosis 1 mg iv bolus dapat diulang setiap 3–5 menit, dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2–2,5 kali dosis intra vena. Untuk reaksi reaksi atau syok anafilaktik dengan dosis 0,3-0,5 mg sc dapat diulang setiap 15-20 menit. Untuk terapi bradikardi atau hipotensi dapat diberikan epinephrine perinfus dengan dosis 1mg (1 mg = 1 : 1000) dilarutka dalam 500 cc NaCl 0,9 %, dosis dewasa 1 μg/mnt dititrasi sampai menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis dapat mencapai 2-10 μg/mnt
- Pemberian dimaksud untuk merangsang reseptor α adrenergic dan meningkatkan aliran darah ke otak dan jantung
Lidokain
(lignocaine, xylocaine)
- Pemberian ini dimaksud untuk mengatasi gangguan irama antara lain VF, VT, Ventrikel Ekstra Sistol yang multipel, multifokal, konsekutif/salvo dan R on T
- Dosis 1 – 1,5 mg/kg BB bolus i.v dapat diulang dalam 3 – 5 menit sampai dosis total 3 mg/kg BB dalam 1 jam pertama kemudian dosis drip 2-4 mg/menit sampai 24 jam
- dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2–2,5 kali dosis intra vena
- Kontra indikasi : alergi, AV blok derajat 2 dan 3, sinus arrest dan irama idioventrikuler
Sulfas
Atropin
- Merupakan antikolinergik, bekerja menurunkan tonus vagal dan memperbaiki sistim konduksi AtrioVentrikuler
- Indikasi : asistole atau PEA lambat (kelas II B), bradikardi (kelas II A) selain AV blok derajat II tipe 2 atau derajat III (hati-hati pemberian atropine pada bradikardi dengan iskemi atau infark miokard), keracunan organopospat (atropinisasi)
- Kontra indikasi : bradikardi dengan irama EKG AV blok derajat II tipe 2 atau derajat III.
- Dosis 1 mg IV bolus dapat diulang dalam 3-5 menit sampai dosis total 0,03-0,04 mg/kg BB, untuk bradikardi 0,5 mg IV bolus setiap 3-5 menit maksimal 3 mg.
- dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2–2,5 kali dosis intra vena diencerkan menjadi 10 cc
Furosemide
- Digunakan untuk mengurangi edema paru dan edema otak
- Efek samping yang dapat terjadi karena diuresis yang berlebih adalah hipotensi, dehidrasi dan hipokalemia
- Dosis 20 – 40 mg intra vena
TAMBAHAN PADA SECONDARY SURVEY
o Sebelum dilakukan
pemeriksaan tambahan, periksa keadaan penderita dengan teliti dan pastikan
hemodinamik stabil
o Selalu siapkan
perlengkapan resusitasi di dekat penderita karena pemeriksaan tambahan biasanya
dilakukan di ruangan lain
o Pemeriksaan
tambahan yang biasanya diperlukan :
§ CT scan kepala,
abdomen
§ USG abdomen,
transoesofagus
§ Foto ekstremitas
§ Foto vertebra
tambahan
§ Urografi dengan
kontras
·
RE-EVALUASI PENDERITA
o Penilaian ulang
terhadap penderita, dengan mencatat dan melaporkan setiap perubahan pada
kondisi penderita dan respon terhadap resusitasi.
o Monitoring
tanda-tanda vital dan jumlah urin
o Pemakaian
analgetik yang tepat diperbolehkan
IX. TRANSFER KE
PUSAT RUJUKAN YANG LEBIH BAIK
§ Pasien dirujuk
apabila rumah sakit tidak mampu menangani pasien karena keterbatasan SDM maupun
fasilitas serta keadaan pasien yang masih memungkinkan untuk dirujuk.
§ Tentukan indikasi
rujukan, prosedur rujukan dan kebutuhan penderita selama perjalanan serta
komunikasikan dengan dokter pada pusat rujukan yang dituju.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran

Untuk memudahkan
mengingat dan menelusuri kemungkinan – kemungkinan penyebab penurunan kesadaran
dengan istilah “ SEMENITE “
yaitu :
1. S : Sirkulasi
Meliputi stroke dan penyakit jantung
2. E : Ensefalitis
Dengan tetap mempertimbangkan adanya
infeksi sistemik / sepsis yang mungkin melatarbelakanginya atau muncul secara
bersamaan.
3. M : Metabolik
Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia,
hipoksia, uremia, koma hepatikum
4. E : Elektrolit
Misalnya diare dan muntah yang
berlebihan.
5. N : Neoplasma
Tumor otak baik primer maupun metastasis
6. I : Intoksikasi
Intoksikasi berbagai macam obat maupun
bahan kimia dapat menyebabkan penurunan kesadaran
7. T : Trauma
Terutama trauma kapitis : komusio,
kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural, dapat pula trauma abdomen
dan dada.
8. E : Epilepsi
Pasca serangan Grand Mall atau
pada status epileptikus dapat menyebabkan penurunan kesadaran.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan
untuk menentukan penyebab penurunan kesadaran yaitu :
1. Laboratorium
darah
Meliputi tes glukosa darah, elektrolit,
ammonia serum, nitrogen urea darah ( BUN ), osmolalitas, kalsium, masa
pembekuan, kandungan keton serum, alcohol, obat-obatan dan analisa gas darah (
BGA ).
2. CT
Scan
Pemeriksaan ini untuk mengetahui
lesi-lesi otak
3. PET
( Positron Emission Tomography )
Untuk meenilai perubahan metabolik otak,
lesi-lesi otak, stroke dan tumor otak
4. SPECT
( Single Photon Emission Computed Tomography )
Untuk mendeteksi lokasi kejang pada
epilepsi, stroke.
5. MRI
Untuk menilai keadaan abnormal serebral,
adanya tumor otak.
6. Angiografi
serebral
Untuk mengetahui adanya gangguan
vascular, aneurisma dan malformasi arteriovena.
7. Ekoensefalography
Untuk mendeteksi sebuuah perubahan
struktur garis tengah serebral yang disebabkan hematoma subdural, perdarahan
intraserebral, infark serebral yang luas dan neoplasma.
8. EEG
( elektroensefalography )
Untuk menilai kejaaang epilepsy, sindrom
otak organik, tumor, abses, jaringan parut otak, infeksi otak
9. EMG
( Elektromiography )
Untuk membedakan kelemahan akibat neuropati maupun
akibat penyakit lain.
Mekanisme Penurunan Kesadaran
§ Kesadaran menurun jika terjadi:
–
Gangguan
pada ARAS (ascending reticular activating system) yang merupakan susunan penggalak
kewaspadaan
–
Gangguan pada korteks serebri yang
merupakan pengolah kesadaran
Gangguan
ARAS :
−
tumor
otak, abses, perdarahan intraserebral,
subarachnoid, epidural, subepidural, trauma kepala dengan lesi fokal. sel neuron korteks tak dapat
digalakkan
Lesi massa ini dapat menekan batang
otak sehingga terjadi herniasi dan menekan ARAS sehingga terjadi penurunan kesadaran
Differential Diagnosis
1.
Fraktur
Cervical
§ Trauma
cervical adalah trauma cervical adalah trauma/injuri yang terjadi akibat
benturan dibagian leher yang menyebabkan respon penurunan neurovaskuler secara
tiba-tiba dan hilangnya fungsi pernafasan, dan ditandai dengan konkusi,
kontusio, laserasi, edema.
§ Untuk mengetahui lebih lanjut
tingkat keparahan dari trauma cervical maka perlu diadakan serangkaian
pemeriksaan/tes diagnostic, yaitu:
–
Spinal
X-ray
–
CT-scan
–
Myelography
§ dapat dilakukan pengelolaan medik
sebagai berikut :
–
Cervical traction,
–
The halo system,
–
Cervical collar.



2.
Trauma Abdomen
Adalah : kerusakan terhadap struktur
yg terletak diantara diafragma dan pelvis,yg diakibatkan oleh luka tumpul atau menusuk.
Di bagi
atas:
1.
Trauma
tajam yaitu trauma abdomen dengan penetrasi ke dalam rongga perotonium.contoh: luka tembak
2. Trauma tumpul yaitu trauma abdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga
peritonium. contoh:
jatuh,pukulan,kecelakaan kendaraan bermotor,ledakan,dll
§ Patofisiologi : Trauma tumpul pada abdomen disebabkan oleh pengguntingan,
penghancuran atau kuatnya tekanan yang menyebabkan rupture pada usus atau
struktur abdomen yang lain.
Alat bantu diagnostik:
§ Riw .trauma (mekanisme trauma,pada
kecelakaan lalu lintas kecepatan dan arah)
§ Pemfis (lokasi
trauma,palpasi,perkusi,auskultasi,pemeriksaan rektal)
§ Laboratorium
§ “Diagnostik Peritoneal
Lavage”(DPL),(bila gejala klinik meragukan)
§ CT-Scan
§ USG
§ Laparaskop
§ Penanganan :
§ Abdominal paracentesis : menentukan
adanya perdarahan dalam rongga peritonium, merupakan indikasi untuk laparotomi
§ Pemeriksaan laparoskopi : mengetahui secara langsung
peneyebab akut abdomen
§ Pemasangan NGT : memeriksa cairan
yang keluar dari lambung pada trauma abdomen
§ Pemberian antibiotik : mencegah
infeksi
§ Laparotomi
§ Sebelum operasi : pemasangan NGT, pemasangan dauer-katheter,
pemberian antibiotik, pemasangan
§ Algoritma penanganan trauma abdomen

3.Trauma Capitis
§ DEFINISI
Trauma kapitis adalah suatu trauma mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala dan mengakibatkan gangguan fungsi neurologis.
Trauma kapitis adalah suatu trauma mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala dan mengakibatkan gangguan fungsi neurologis.
§ The Traumatic Coma Data Bank mendefinisakan berdasarkan skor
Skala Koma Glasgow (cited in Mansjoer, dkk, 2000: 4):
§ Cidera
kepala ringan/minor (kelompok resiko rendah)
–
Skor
skala koma Glasglow 15 (sadar penuh,atentif,dan orientatif)
–
≠ kehilangan kesadaran(misalnya
konkusi)
–
≠
intoksikasI
alkohol atau obat terlarang
–
Pasien
dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
–
Pasien
dapat menderita abrasi,laserasi,atau hematoma kulit kepala
–
Tidak
adanya kriteria cedera sedang-berat.
§ Cidera kepala sedang (kelompok
resiko sedang)
–
Skor
skala koma glasgow 9-14 (konfusi, letargi atau stupor)
–
Konkusi
–
Amnesia
pasca trauma
–
Muntah
–
Tanda
kemungkinan fraktur kranium (tanda battle,mata rabun,hemotimpanum,otorhea atau
rinorhea cairan serebrospinal).
§ Cidera
kepala berat (kelompok resiko berat) :
–
Skor
skala koma glasglow 3-8 (koma)
–
↓ kesadaran secara progresif
–
Tanda
neurologis fokal
–
Cidera
kepala penetrasi atau teraba fraktur depresikranium.
–
Jenis-jenis
cidera kepala (Suddarth, dkk, 2000, l2210-2213)
–
Cidera
kulit kepala. Cidera pada bagian ini banyak mengandung pembuluh darah,
kulit kepala berdarah bila cidera dalam. Luka kulit kepala maupun tempat
masuknya infeksi intrakranial. Trauma dapat menyebabkan abrasi, kontusio,
laserasi atau avulsi.
§ Jenis-jenis
cidera kepala (Suddarth,
dkk, 2000, l2210-2213)
–
Cidera kulit kepala
–
Fraktur
tengkorak: rusaknya
kontinuitas tulang
•
Klasifikasi Fraktur Tengkorak
Terbuka:Dura Rusak
Tertutup:Dura ≠ Rusak
–
Cidera Otak
–
Komosio: tidak sadarkan diri dalam waktu
selama beberapa detik sampai beberapa menit.(Cedera Kepala
Minor dan biasanya tanpa sekuele yang berarti)
–
Kontusio (Memar): Kemungkinan Adanya Daerah Haemoragi
–
Haemoragi
intrakranial: seringkali lambat
sampai hematoma tersebut cukup besar untuk menyebabkan distorsi dan herniasi
otak serta peningkatan TIK.
–
Hematoma
epidural (hamatoma ekstradural atau haemoragi)
–
arteri meningeal tengah putus /rusak
(laserasi), dimana arteri ini berada di dura dan tengkorak daerah inferior
menuju bagian tipis tulang temporal → Peningkatan TIK
–
Hematoma sub dural
–
Hematoma diantara dura dan dasar, suatu ruang yang
pada keadaan normal diisi oleh cairan
–
Hematoma sub dural dapat terjadi
akut, sub akut atau kronik. Tergantung ukuran pembuluh darah yang terkena dan
jumlah perdarahan yang ada
–
Haemoragi intraserebral dan hematoma. Haemoragi ini biasanya terjadi pada
cidera kepala dimana tekanan mendesak ke kepala sampai daerah kecil (cidera
peluru atau luka tembak; cidera kumpil).
§ Mekanisme Cedera
Kepala
-
Akselerasi,
ketika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam. Contoh :
akibat pukulan lemparan.
-
Deselerasi. Contoh
: kepala membentur aspal.
-
Deformitas. Dihubungkan dengan
perubahan bentuk atau gangguan integritas bagan tubuh yang dipengaruhi oleh
kekuatan pada tengkorak.
§ Tanda dan gejala cedera kepala dapat
dikelompokkan dalam 3 kategori utama ( Hoffman, dkk, 1996):
-
Tanda
dan gejala fisik/somatik: nyeri kepala, dizziness, nausea, vomitus
-
Tanda
dan gejala kognitif: gangguan memori, gangguan perhatian dan berfikir kompleks
-
Tanda
dan gejala emosional/kepribadian: kecemasan, iritabilitas
§ Pemeriksaan Dianostik: CT –Scan, MRI, Angiografi Serebral,
EEG, Sinar X,BAER (Brain Eauditory Evoked), PET (Pesikon Emission Tomografi),
Pungsi Lumbal CSS, Kimia/elektrolit darah, GDA (Gas Darah Arteri), Pemeriksaan
toksitologi, Kadar antikonvulsan darah
§ Penatalaksanaan Medik
§ Penatalaksanaan medik cedera kepala
yang utama adalah mencegah terjadinya cedera otak sekunder. Cedera otak
sekunder disebabkan oleh faktor sistemik seperti hipotesis atau hipoksia atau oleh
karena kompresi jaringan otak (Tunner, 2000). Pengatasan nyeri yang
adekuat juga direkomendasikan pada pendertia cedera kepala (Turner, 2000).
§ Penatalaksanaan umum adalah sebagai
berikut :
§ Nilai fungsi saluran nafas dan respirasi.
§ Stabilisasi vertebrata servikalis pada semua
kasus trauma.
§ Berikan
oksigenasi.
§ Awasi
tekanan darah
§ Kenali
tanda-tanda shock akibat hipovelemik atau neurogenik.
§ Atasi
shock
§ Awasi
kemungkinan munculnya kejang.
§ Penatalaksanaan
lainnya:
§ Dexamethason/kalmethason sebagai
pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
§ Therapi hiperventilasi (trauma kepala
berat). Untuk mengurangi vasodilatasi.
§ Pemberian analgetika
§ Pengobatan anti oedema dengan larutan
hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.
§ Antibiotika yang mengandung barrier
darah otak (penisilin).
§ Makanan atau cairan. Pada trauma
ringan bila terjadi muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan
infus dextrosa 5% , aminofusin, aminofel (18 jam pertama dan terjadinya
kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikana makanan lunak.
§ Pada trauma berat, hari-hari pertama
(2-3 hari), tidak terlalu banyak cairan. Dextrosa 5% untuk 8 jam pertama,
ringer dextrose untuk 8 jam kedua dan dextrosa 5% untuk 8 jam ketiga. Pada hari
selanjutnya bila kesadaran rendah, makanan diberikan melalui ngt (2500-3000
tktp). Pemberian protein tergantung nilai urea N.
§ Makanan atau cairan. Pada trauma
ringan bila terjadi muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan
infus dextrosa 5% , aminofusin, aminofel (18 jam pertama dan terjadinya
kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikana makanan lunak.
§ Pada trauma berat, hari-hari pertama
(2-3 hari), tidak terlalu banyak cairan. Dextrosa 5% untuk 8 jam pertama,
ringer dextrose untuk 8 jam kedua dan dextrosa 5% untuk 8 jam ketiga. Pada hari
selanjutnya bila kesadaran rendah, makanan diberikan melalui ngt (2500-3000
tktp). Pemberian protein tergantung nilai urea N.
4. Hipoglikemia
Hipoglikemia
adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara abnormal rendah.
DIAGNOSIS
GEJALA DAN TANDA KLINIS ;
GEJALA DAN TANDA KLINIS ;
•
Stadium parasimpatik ; lapar,mual,tekanan darah turun
•
Stadium gangguan otak ringan ; lemah lesu ,sulit bicara ,kesulitan menghitung
sementara
• Stadium simpatik; keringat dingin pada muka ,bibir atau tangan gemetar
• Stadium simpatik; keringat dingin pada muka ,bibir atau tangan gemetar
•
Stadium gangguan otak berat ;tidak sadar,dengan atau tanpa kejang
·
ANAMNESIA ;
• Penggunan preparat
insulin atau obat hipoglemik oral ; dosis terakhir ,waktu pemakaian terakhir
,perubahan dosis.
• Waktu makan terakhir
,jumlah asupan gizi
• Riwayat jenis
pengobatan dan dosis sebelumnya
• Lama menderita DM
,komplikasi DM
• Penyakit penyerta :ginjal
,hati, dll.
• Penggunaan obat
sistematik lainnya ;penghambat adrenergikB ,dll
·
PEMERIKSAAN FISIK ;
pucat,diaphoresis,tekanan darah ,frekuensi denyut jantung,penurunan kesadaran
,deficit neurologik fokal transient.
·
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kadar glukosa darah
(GD) ,tes fungsi ginjal ,tes fungsi hati ,C- peptide
·
TERAPI
Stadium permulaan ( sadar )
Stadium permulaan ( sadar )
• Berikan gula murni 30
gram ( 2 sendok makan ) atau sirop /permen atau gula murni ( bukan pemanis
pengganti gula atau gula diit /gula diabetes ) dan makanan yang mengandung
karbohidrat
• Hentikan obat
hipoglikemik sementara
• Pantau glukosa darah
sewaktu tiap 1-2 jam
• Pertahankan GD
sekitar 200 mg/dL ( bila sebelumnya tidak sadar)
• Cari penyebab
·
Stadium lanjut (koma hipoglikemia atau
tidak sadar dan curiga hipoglikemia ) Diberikan larutan destrosa 40% sebanyak 2
flakon (=50 mL)bolus intra vena ,
DAFTAR PUSTAKA
1. Nuralim
Mallapasi Muhammad, Dr. BUKU PANDUAN BASIC TRAUMA CARDIAC LIFE SUPPORT.
Makassar : Brigade Siaga Bencana Kawasan Timur I Indonesia makassar.2006 h. 4
2. Dokter
Medis. Evaluasi
Neurologik (Disability). [online]. Avaible from : URL : dokter-medis.blogspot.com/2009/06/evaluasi-neurologik.html
3. Aryamehr
Syahyad, Dr. Cardiopulmonary Resuscitation (CPR). Makassar : Dibawakan Dalam Rangka
Tugas Pada Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesi FK UNHAS ; 2003.h.1-40.
4. Dokter
Medis. Survei Primer
(Primary Survey). [online]. Avaible from : URL : dokter-medis.blogspot.com/2009/06/survei-primer.html
5. Dokter
Medis. Pengelolaan Jalan
Napas (Airway Management) Tanpa Alat. [online]. Avaible from : URL : dokter-medis.blogspot.com/2009/06/pengelolaan-jalan-napas-airway.html
6. Tintinalli
Judita,M.D.,M.S.,Emergency Medicine, McGraw-Hill, New York,2001
7. Initial
Assesment dan Resusitasi dalam Advence trauma life Support (ATLS) Manual untuk
Peserta Kursus. Jakarta : American College of Surgeons;2005
![Description: clip_image002[19]](file:///C:\Users\Vina\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image007.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar